Filsafat Estetika Musik Buddha

Filsafat Estetika Musik Buddha – Tradisi musik yang terkait dengan budaya dan praktik Buddhis ditemukan di negara-negara Asia Selatan, Tenggara, dan Timur serta komunitas lain di seluruh dunia.

Filsafat Estetika Musik Buddha

 Baca Juga : Mengenal Konsep Dan Definisi Dharma

Latar Belakang

fungdham – Direktori Buddhis Global( 1985) berspekulasi kalau terdapat dekat 6 dupa juta pemeluk Buddha di semua bumi. Komunitas terbanyak ditemui di: Asia( Sri Lanka, Myanmar( Burma) Thailand, Laos, Kamboja, Tiongkok, Tibet, Jepang, Mongolia, Bhutan, Nepal, Taiwan, Singapore, Hong Kong, Indonesia, Republik Asia Tengah, India serta Bangladesh).

Di Eropa serta Amerika Utara terdapat komunitas para emigran Asia Budha dan pegiat Barat. Suatu badan yang banyak hendak nada ibadat ialah tulang punggung aplikasi keimanan tiap hari di kuil- kuil Buddha. Ibadat ibadat amat bunyi, kerap diiringi perkusi ritual serta sering- kali dengan instrumen melodi. Nada instrumental, dimainkan bagus pada senar angin serta instrumen senar, ialah bagian dari seremoni penanggalan( semacam yang buat orang mati) serta yang tidak calendrical.

Kerapkali mempunyai guna para ibadat, men catat titik peralihan serta mengenalkan ataupun memberhentikan insiden ritual. Nada Buddhis menyuguhkan karakter regional serta sektarian, serta pembicaraan sudah bertumbuh dalam interaksi konsisten dengan adat- istiadat nada lokal serta aplikasi pementasan. Tetapi, terdapat pula ekualitas yang penting dalam aplikasi komunitas Buddhis yang amat jauh dalam ruang serta durasi satu serupa lain.

Retrospeksi konsisten kepada wujud serta anutan Si Buddha oleh sangha, komunitas para bhikkhu serta suster, ataupun dalam maksud besar dari seluruh pegiat yang berkomitmen pada kepercayaan Buddhis, dengan cara parsial menarangkan kejadian ini.

Dari akhir era ke- 19( Parlemen Agama- agama Bumi awal diadakan pada tahun 1893)( World’ s Parliament of Religions), Buddhisme dengan cara berangsur- angsur menguatkan dirinya selaku“ agama bumi”( world religion). Kosmopolitanisasi serta paparannya yang liberal kepada idiom nada yang berlainan sudah menimbulkan timbulnya suara Buddha“ terkini”. Melonjaknya ketersediaan teknologi rekaman serta alat massa pula berakibat pada komunitas Buddhis di Asia serta semua bumi.

Konteks dan Sumber Sejarah

Para akademikus merasa terus menjadi tidak aman dengan statment yang tidak berkualifikasi hal kenyataan asal usul kehidupan serta anutan Buddha. Bertepatan pada konvensional kehidupan Buddha( 563- 483 SM) baru- baru ini dipertanyakan oleh banyak orang yang memandang aktivitasnya berjalan dekat satu era setelah itu. Tetapi, komunitas Buddhis berkembang produktif di India sepanjang bangsa Maurya( 324- 187 SM).

Pada akhir era rezim kaisar Asoka, institusi Buddhis dibuat di semua daratan India. Pendakwah Buddhis hingga ke Cina, paling utama dari barat laut, kadangkala pada era awal masa biasa. Pada akhir era ke- 4, kontak dengan Cina bawa anutan Buddha ke semenanjung Korea serta dari situ ke Jepang. Dekat era ke- 7, adat yang dipengaruhi Buddha menabur dari Jawa ke Nepal serta dari Afghanistan ke Jepang.

Sepanjang beratus- ratus tahun, India jadi pusat pengembangan serta penyebaran ajaran Buddhis serta aplikasi keimanan. Tetapi, pada era ke- 13, institusi Buddhis nyaris lenyap di India serta Asia Tengah, tetapi beberapa besar dihidupkan kembali pada era ke- 20. Sehabis kemunduran Buddhisme di India, warga Asia Tenggara memandang Sri Lanka buat memperoleh gagasan serta edukasi doktrinal.

Sebab buah pikiran mengenai pemerintahannya melantamkan pada raja- raja Kamboja, Thailand, Burma( saat ini Myanmar) serta Laos, Buddhisme diadopsi selaku pandangan hidup sah. Hingga akhir- akhir ini, di Cina serta pula di Jepang, Buddhisme dengan cara pengganti dipeluk ataupun ditolak, serta hadapi era keberhasilan dan penganiayaan yang hebat. Anutan Si Buddha pada awal mulanya diawetkan dengan cara perkataan oleh para pengikutnya serta setelah itu berkomitmen buat menulis dari dasawarsa terakhir dari masa biasa oleh para pendeta Sinhala.

Pelarutan geografis bawa perbandingan ritual serta ajaran, serta aplikasi beberapa bahasa kanonik serta naskah. Pāli merupakan serta sedang ialah bahasa kanonik serta ritual Sri Lanka serta Asia Tenggara. Bacaan sansekerta terhambur di Asia Timur serta Tengah. Pemakaian ritual bahasa Sansekerta bertahan hari ini di antara Newar Nepal.

Bacaan sanskerta pula diterjemahkan ke dalam bahasa Tiongkok, yang jadi bahasa kanonik Korea, Jepang, Vietnam serta, pasti saja, Cina. Kesimpulannya, bagian dari kanon Sanskerta diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet, yang sedang berdiri selaku bahasa Buddhis di area Himalaya, Mongolia serta Siberia. Walaupun alih bahasa merupakan aplikasi adat yang senantiasa terdapat, banyak bacaan terkini dibuat pada langkah yang berlainan serta dimasukkan ke dalam kanon.

Dalam mayoritas adat, bacaan serta ritual yang dipengaruhi Buddha pula bertumbuh dalam bahasa tidak hanya bahasa kanonik. Walaupun kerutinan daftar acuan Buddhis menghalangi jumlah bacaan yang dengan cara spesial tertuju buat nada yang hendak digabungkan di dalam kanon, bacaan sejenis itu terdapat serta bisa dihitung di antara sumber- sumber buat riset adat- istiadat liturgis serta para liturigi.

Pangkal tekstual melingkupi buku petunjuk ritual serta ibadat, ensiklopedi, informasi para pengunjung Buddhis, cerita langsung oleh pengamat lokal ataupun turis asing, serta modul ilmu area serta epigrafi.

Buah pikiran serta aplikasi Buddhis tidak diperhitungkan dalam tulisan- tulisan para pakar filosofi musikal yang berawal dari adat- istiadat agama serta adat Hindu. Tetapi, usaha buat merekonstruksi filosofi bunyi serta melodi Buddhis dini sudah membuat para akademikus merumuskan kalau keduanya relatif serupa dengan yang ditemui dalam risalah setelah itu dari filosofi nada India yang diucap( Ellingson, 1979).

Hal nada instrumental, satu perbandingan penting antara keduanya merupakan sistem pengelompokan yang ditemui di pangkal Buddha Pāli serta Tibet. Perlengkapan nada dipecah jadi 5 kategori( pañcā- tūrya- nāda), bukan 4 yang lazim bersumber pada pada metode arsitektur( padat, tertutup, berlubang serta menghampar). Dari ujung penglihatan abstrak, tampaknya konsepsi India mengenai suara berlainan dari mayoritas sekolah konvensional, tercantum filsuf Vedāntic serta Sākhkhya.

Sebaliknya yang terakhir menyangka suara selaku‘ perwujudan’( nafas vital serta pemahaman hati, misalnya) serta tidak angkat tangan pada kausalitas, para filsuf Buddhis beranggapan kalau suara angkat tangan pada“ invensi serta penghancuran”( creation and destruction), dengan akibat nada serta estetika yang tidak terelakkan. Sistem catatan nada Buddhis, bagus instrumental ataupun bunyi, diketahui paling utama lewat sumber- sumber Jepang serta Tibet, walaupun kelihatannya terdapat di wilayah lain di Asia, tercantum India.

2 ilustrasi catatan Buddhis merupakan catatan kontur dbyangs yig serta meyasu- hakase yang ditemui dalam adat- istiadat Tibet serta Jepang. Riset modern mengenai adat- istiadat nada Buddha, asal usul serta aplikasi kontemporer mereka, sedang terhitung terbatas dalam jumlah serta cakupannya.

Sebagian dispensasi merupakan lantunan ritual shōmyō Jepang, didokumentasikan dengan teliti oleh akademikus Jepang serta non- Jepang, serta sebagian aplikasi nada Tibet serta Tiongkok. Uraian yang bisa jadi buat pengabaian ini terdapat pada realitas kalau, semenjak dini riset akademisnya di akhir era 19 Eropa, para akademikus menguasai Buddhisme selaku anti- musik serta anti ritual.

Dalam warga Asia, representasi diri para Buddhis elit, selaku jawaban kepada buah pikiran modernis, mengarah menekankan pandangan individualistik serta rasionalis agama mereka hal aplikasi ritual serta berplatform warga. Representasi- misrepresentasi ini melewati filosofi, serta berakibat pada kreator kebijaksanaan serta pula kepada banyak orang yakin itu sendiri, yang kerap dianiaya serta praktiknya dikira“ dongeng”( superstitious).

Praktek Liturgi Nyanyian Choral

Sepanjang beratus- ratus tahun anutan Buddha sudah dipelihara serta dikirim lewat vokalisasi nada beramai- ramai. Walaupun bacaan dipakai dalam aplikasi kontemporer, mahfuz serta eksekusi lantunan senantiasa mempunyai guna dasar ini. Ellingson( 1979), misalnya, melihat biarawan Buddha membetulkan kekeliruan yang dicetak bersumber pada lantunan ingat. Chorus chanting amat berarti untuk adat- istiadat ibadat Buddhis. Bagi Ellingson( 1986), aplikasi itu diawali pada tahun 40000 di komunitas India serta setelah itu menabur ke semua Asia. Suatu bacaan dari Pāli Canon, the Cullavagga, memberi tahu kalau sehabis kematian Si Buddha, seseorang bhikkhu tua mengundang orang lain buat“ bersenandung bersama Dhamma( anutan Buddha) serta Vinaya( patuh monastik)”. Teks- teks lain di dalam Pāli Canon merujuk pada institusi aplikasi nada serta ritual sepanjang era Buddha.

Pangkal mengatakan kalau paduan suara‘ intoned recitation’( sarabhañña) dipakai oleh para biarawan pada kegiatan teratur penanggalan ataupun selaku‘ jampi- jampi penjaga’ sepanjang seremoni angkatan darat(AD) hoc. Lantunan Choral didasarkan pada aplikasi liturgis monastik kontemporer. Pada dini era ke- 20, pementasan paduan suara spesial di biara- biara Tibet dapat mengaitkan sampai 50. 000 player. Di biara- biara Budha Thailand, seremoni lantunan diadakan 2 kali satu hari oleh badan.

Lantunan diucapkan oleh biduan yang menyanyikan suatu resep pengantar, diiringi oleh paduan suara dari badan biksu. Para bhikkhu tampak berbarengan, melainkan biarawan belia yang bersenandung di oktaf ke atas, kelima ataupun keempat. Bacaan yang diucapkan didapat dari kanon Pāli serta frasa melodi diawali serta diakhiri dengan frasa bacaan. Dalam tipe lantunan, irama serta melodi ini kelihatannya tergantung pada pola kompendium bacaan. Tipe lain dari fitur lantunan dalam ritual proteksi Paritta, di mana para player mengutip napas yang menumpang bertumpukan supaya tidak mematahkan gerakan sonik. Aplikasi penerapan spesial ini pula sudah diadopsi di Sri Lanka serta Cina.

Di Jepang, kekayaan nada ibadat dikodifikasikan serta ditulis pada langkah yang kira- kira dini, serta sekolah- sekolah lantunan dibuat pada era ke- 8 serta ke- 9. Dikala ini, style serta aplikasi pementasan yang berlainan terdapat di shōmyō sekolah Tendai serta Shingon. Ibadat ibadat Buddha Jepang dengan cara konvensional dipecah cocok dengan karakter bacaan yang diucapkan.

Terdapat 3 jenis yang berlainan. Bonsan merupakan lantunan rohani di mana kepribadian Tionghoa terdapat dalam bahasa Sanskerta yang diterjemahkan, Kansan merupakan lagu pujian dengan bacaan Tionghoa serta Wasan merupakan lagu pujian yang ditulis dalam bahasa Jepang. Yang terakhir umumnya ditafsirkan selaku style yang sangat empuk. Lantunan rohani dikelompokkan lebih lanjut cocok dengan tempat serta gunanya dalam ibadat. Beberapa kuil di Jepang menjaga adat- istiadat lantunan yang penting.

Lantunan Shōmyō dinyanyikan di Enryaku- ji di Mount Hiei( layanan nyaris tiap hari), Chishaku- in di Kyōtō( layanan kerap) serta kuil yang lain. Shōmyō bisa terbuat dari campuran sampai 50 resep melodi yang dikodifikasikan. Pertunjukannya berkisar dari berkah kompendium Si Buddha Amida( nembutsu) sampai pengaturan yang amat lingkungan serta melismatik yang dipancarkan dengan cara esoterik di dalam imamat. Baru- baru ini, potongan- potongan yang lebih esoterik dibiarkan dari rekaman yang diterbitkan. Bagus Jepang shōmyō serta chissori( style lantunan yang lebih rinci dalam adat- istiadat Budha Korea) mempunyai sistem rasio lapangan bersumber pada bentuk Tiongkok, sebaliknya dunkangs Tibet melandaskan melodi pada pola kontur tonal.

Di Cina, ibadat setiap hari terdiri dari sholat dinihari, siang serta malam serta persembahan makan. Kekayaan ibadat lazim lumayan dibatasi. Perihal ini beberapa besar didasarkan pada koleksi klasik Zhujing Risong( Various Sūtras for the Daily Recitations) yang dibuat oleh biarawan Zhuhong( 1535- 1615). Seluruh ajaran Tiongkok mempunyai novel bimbingan liturgis seragam. Tidak hanya bacaan Pelajaran Pagi( zaoke) serta Pelajaran Malam( wanke), novel buku petunjuk bermuatan bacaan buat pemurnian mazbah serta seremoni penanggalan yang lain, semacam balik tahun Buddha. Di Cina, tipe penting pengiriman bunyi tercantum membaca( du), membaca( lantunan), lantunan( yin) serta lantunan( chang).

Lantunan berarti dari adat- istiadat Tiongkok merupakan curiga Baoding, pula diketahui selaku Xiang curiga( Hymn to the Precious Incense- Burner ataupun Hymn to Incense). Menawarkan cendana merupakan aksi deifikasi yang amat berarti dalam kondisi Buddhis. Pernyataan“ cendana pembakaran”( burning incense) Tiongkok( shao xiang), misalnya, merujuk pada ibadah tiap hari di suatu kuil. Terbebas dari kepentingannya selaku persembahan religius, kedatangan lantunan aplaus buat memuja cendana jadi saksi ikatan simbolis serta sensoris dengan nada dalam ritual itu. Mutu bunyi nada ibadat Buddhis kerapkali natural, walaupun penciptaan terbatas pula ialah karakteristik khas Buddha.

Di Kamboja suaranya khas nasal, sebaliknya biarawan Vietnam memakai falsetto dalam tipe tan tan. Sebagian tipe suara dipakai dalam ritual ritual Tibet. Sistem pengelompokan One Voice( Ellingson, 1979) didasarkan pada byung gnas( tempat asal) di dalam badan. Skuad Khog pa’ i( gerong badan), misalnya, mewajibkan biduan itu berkonsentrasi pada otot diafragma, dada serta perut buat menciptakan suara yang dalam serta dengungan yang khas dari ritual ritual Tibet.

Bagi sistem ini terdapat pula suara‘ kerongkongan’,‘ mulut’ serta‘ hidung’. InstrumenPenggunaan perkusi ritual merupakan karakter dari banyak adat- istiadat liturgis monastik; Pemakaian instrumen lain kurang kerap. Dispensasi berarti ditemui di sebagian ibadat di Tibet, Jepang, Hong Kong, Taiwan serta Vietnam. Di Vietnam, suatu kecapi terdengar dengan menunduk dengan ataupun tanpa kotak suara kelapa terkadang dimainkan oleh para biarawan.

Dalam mayoritas adat- istiadat Buddhis, badan biksu monastik dipimpin oleh tanda yang dimainkan di bel, gong, drum serta idiophones yang lain. Satu informasi bacaan hingga era awal sudah melukiskan mutu suatu idiophone kusen. Pemakaian drum, bel serta kijing pula dibuktikan oleh pangkal bacaan dini.

Di biara- biara korea modern, para bhikkhu dipanggil buat sholat dikala verger berdebar melodius pada kusen( mokt’ ak). Si verger setelah itu menyanyikan jampi- jampi dari Thousand Hands Sūtra, serta serangkaian bogem mentah pada gong, bel, drum serta ikan kusen dari Bell and Drum Towers menunjukkan dini hari. Kala bel kuil besar melanda 28 kali, para bhikkhu terkumpul di auditorium penting kuil buat kebaktian pagi.

Di Haein- sa, provinsi Kyongsang- do, Korea, suatu drum besar dapat dipakai buat memanggil para biarawan ke pelajaran malam. Suatu ansambel perkusi ritual dipakai dalam aplikasi ibadat Tiongkok. Suatu ansambel ritual umumnya terdiri dari drum( gu), cawan kuningan kecil yang ditangguhkan pada gayung( yinqing), kusen kusen( muyu, kusen kusen), alarm( chanzhong), cawan kuningan besar( qing), simbal( chazi) serta ditangguhkan gong( dangzi).

Dalam mayoritas novel ibadat Tiongkok, di bagian kanan bacaan, terdapat ikon standar yang membuktikan bertepatan terdapatnya bogem mentah pada instrumen ritual dengan perkataan perkata. Tetapi, kerangka melodius tidak akurat. Dalam banyak kondisi; Walaupun gulungan kusen membuat aksen, kongregasi tidak senantiasa mempunyai tempo yang normal.

Di Myanmar, tempo diisyarati oleh alarm( sang) serta clappers( wà) serta di Laos oleh bel serta drum tersendat besar( kong vat). Dalam adat- istiadat Sinhala, lantunan umumnya tidak diiringi instrumen apapun, dengan dispensasi drum sesekali. Di Vietnam, tipe tan tan menunjukkan irama yang amat sinkop. Gong kecil serta drum kusen men catat 3 daur melodius yang memastikan 3 tipe lantunan yang berlainan: tan roi, tan xap serta tan trao.

 Baca Juga : Mendalami Lebih Dekat Tentang Siapa Sang Buddha

Tren Kontemporer

Dalam sebagian tahun terakhir, badan Buddhis di Cina, Taiwan, Hong Kong serta negara- negara lain sudah mempelajari pemakaian rekaman suara serta pemancaran buat mengedarkan anutan Buddha serta menjangkau khalayak terkini ataupun lebih besar. Pementasan ritual serta jasa liturgis berjalan di atas pentas serta di auditorium konser.

Ilustrasinya merupakan tahun 1989 oleh para biksu dari Asrama: Drepung, Tibet, Kanada, Amerika Serikat, serta Meksiko. Protagonis dari bumi institusional Buddhis sudah menyarankan perlunya pembaharuan strategi komunikasi mereka. Mereka mengarah menyangkutkan teknologi rekaman serta alat elektronik dengan kebutuhan yang serupa yang dengan cara konvensional berhubungan dengan pencetakan dalam mengedarkan anutan Buddha.

Rekaman layanan setiap hari, khotbah oleh ahli populer, ritual penanggalan serta sesekali ada di banyak kuil serta pula di gerai- gerai. Ritual serta berkah tipe terkini pula ada di kaset serta CD, yang menunjukkan instrumen konvensional dan piano, gitar serta synthesizer. CD film serta film“ karaoke Buddhis”( Buddhist karaoke) dibuat di Malaysia serta Singapore buat pasar nasional serta global.

Lagu- lagu yang ditulis oleh musisi Cina Wang Yong baru- baru ini ditafsirkan selaku“ nada rock Buddhis”( Buddhist rock music) sebab si artis berupaya buat mengantarkan pengalaman termotivasi Buddha lewat nada. Tipe nada ini tergantung pada pabrik rekaman serta alat buat pelarutan. Beberapa komponis handal sudah ikut serta dalam penciptaan“ nada Buddhis terkini”( new Buddhist music) dengan bermacam style serta karakter. Pada tahun 1994, misalnya, suatu syair simfonik paduan suara yang disusun oleh Yao Shenchang dengan melirik oleh ahli nada Buddhis Tian Qing, disiarkan kesatu di kota besar Cina, Tianjing.