True Direction: Menyebarkan Dhamma Melalui Musik

True Direction: Menyebarkan Dhamma Melalui Musik  – “ Tempat ini tadinya markas musisi gereja, kebaktian gereja. Buat awal kalinya, for the first time, tempat ini dipakai buat menuangkan harapan nada Dhamma.”

True Direction: Menyebarkan Dhamma Melalui Musik

 Baca Juga : Filsafat Estetika Musik Buddha

fungdham – Seperti itu perkataan pembuka Irvyn Wongso, wiraswasta belia owner Gradasi Nada sekalian Delegasi Kepala Buddhist Fellowship Indonesia di hadapan 50 musisi belia yang lagi mencari bukti diri, dahaga mencari keterhubungan aplikasi Dhamma dengan bumi nada. Terdapat yang sempat rekaman lagu Buddhis, tetapi terdapat pula yang terkini hingga aktif mendampingi sanjung abdi di vihara dengan musik. Mayoritas berlatar sebagai vokalis, tetapi pula terdapat pianis, gitaris, violis, serta drummer.

Mereka tiba di auditorium Gradasi Nada, Kelapa Gading,  mayoritas mau ketahui apa itu True Direction yang terkini saja dipelopori oleh Irvyn Wongso.

Semenjak ilham True Direction digaungkan oleh Irvyn, paling utama lewat Fb, banyak peminat berdatangan apalagi hingga dari luar negara. Irvyn menceritakan gimana beliau sebagian kali dihubungi komunitas Buddhis di sebagian negeri yang memintanya buat membuat lagu Buddhis, tercantum jadi lagu sah International Tipitaka Chanting yang teratur diadakan di Bodhgaya. Nyatanya, keinginan hendak nada Buddhis yang penuh pekat hendak nilai- nilai Dhamma bukan cuma terjalin di Indonesia, tetapi pula di semua bumi.

“ Di vihara mayoritas nada cuma lagu Ayo Berdana, kemudian tingkat kedua hanya gunakan single keyboard serta terdapat sebagian yang telah wujud band,” ucap Aristo dari Gradasi Nada.“ Namun membuat band saja tidak lumayan.”

Merintis nada yang up to date serta tidak tertinggal era di golongan Buddhis bukanlah gampang.“ Memerlukan wajah tebal serta kegagahan, sedikit yang menghormati, banyak yang ingin menjatuhkan,” ucap Irvyn. Sedang banyak vihara yang menyangkal nada diputar di dalam area vihara dengan alibi nada mengusik kemajuan kebatinan.

Walhasil, kala Buddhis menginginkan musik, terdesak kita wajib memohon dorongan pihak- pihak non- Buddhis yang telah profesional. Irvyn memeragakan, pementasan orkestra DAAI Televisi baru- baru ini melunasi Addie MS yang bukan seseorang Buddhis. Sedemikian itu pula, bila kita seluruh ingat, album instrumen khalwat Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta yang digarap Bhante Uttamo pula lagi- lagi berkolaborasi dengan Addie MS.

Irvyn pula hadapi sendiri. Semenjak lagu Mudah- mudahan Seluruh Hidup Bergembira yang beliau unggah di Youtube ditonton banyak orang, dan dipentaskan di kegiatan Tribute to Buddha’ s Legacy 2015 belum lama ini, kesimpulannya lagu itu beliau buat album sebab banyak permohonan. Buat melakukan albumnya itu, beliau terdesak mengajak para musisi bukan Buddhis, sebab mereka lebih pakar.

“ Band aku esoknya pula 50% terdiri atas sahabat JPCC( Jakarta Praise Community Church) serta orang- orangnya Erwin Gutawa,” narasi Irvyn,“ Aku sesungguhnya tidak ingin menyanyi serta membuat album, ini bukan mimpi aku, namun sebab banyak sekali pemeluk Buddha yang memohon serta membutuhkannya. Aku sesungguhnya lebih senang bersandar khalwat.”

Beliau pula menyesalkan banyak pemeluk Buddha yang cuma dapat mempersoalkan pementasan nada Buddhis, tetapi kebalikannya pemeluk agama lain semacam pemeluk Kristiani serta Orang islam justru banyak yang berikan jempol atas gebrakan nada yang diadakan oleh anak muda Buddhist Reborn melalui Tribute to Buddha’ s Legacy 2015:#WakeUpSpeakUp. Tindakan yang tidak apresiatif ini pula membuat pemasaran album- album Buddhis hadapi hambatan sungguh- sungguh.

Buat menanggapi tantangan bumi nada Buddhis ini, inilah pemecahan Irvyn:“ Nada Buddhis wajib dapat naik tingkat, naik ke tingkatan yang berikutnya, wajib bergengsi. Tidak hanya jerit- jerit, tidak hanya chanting semacam Chant of Metta. Banyak bagian yang wajib dipikirkan di bumi nada. Suara yang bagus wajib cocok dengan tipe musiknya. Chant of Metta itu chanting, tetapi bukan lagu yang pas sebab apalagi tidak terdapat chorus serta interlude. Terdapat yang bilang lagu Buddhis wajib semacam Imee Ooi, tetapi belum pasti semacam itu yang sesuai untuk anak belia.”

Dilema yang lain merupakan mayoritas nada Buddhis saat ini ini tidak menjajaki kemajuan era, apalagi tidak tidak sering yang copycat( menjiplak).“ Apalagi The Beatles yang hikayat itu pula, jika launching saat ini, tak akan sukses,” Irvyn berikan ilustrasi.

Lagu- lagu Kristiani bisa jadi ilustrasi untuk dipelajari. Banyak orang yang salah biasa membandingkan lagu- lagu aplaus gereja serupa dengan lagu- lagu pop, sementara itu genrenya itu berlainan. Apalagi lagu Natal saat ini jadi satu jenis sendiri. Tiap bulan mereka selalu membuat lagu terkini alhasil dapat lalu up to date dengan situasi era.

Irvyn pula menekankan berartinya aplikasi Dhamma, bukan cuma hanya main nada saja.“ Musisi inginnya berekspresi sebebas- bebasnya. Permasalahan mereka merupakan batin mereka terbuka tetapi pikirannya tertutup. Bila kamu hanya ingin pertandingan membuktikan kemampuan kamu, hingga kamu sepatutnya tidak di tempat ini. Di mari kita betul- betul ingin aplikasi Dhamma melalui nada,” jelas Irvyn. Irvyn menerangkan, badan True Direction wajib sudah mengaplikasikan Dhamma terlebih dulu saat sebelum mengedarkan Dhamma lewat nada. Wajib lebih dahulu merasakan khasiat Dhamma, saat sebelum memberi pada orang lain lewat nada.

Tidak tidak sering bakat- bakat nada Buddhis terdesak berkreasi di tempat ibadah agama lain sebab di vihara- vihara mereka tidak dinilai oleh pemeluk Buddha sendiri. Devi Chayadi, salah satu pelopor True Direction, membabarkan realitas getir,“ Banyak dari kita menyanyi di vihara hanya berasumsi untuk perform. Kemudian sehabis main, sebagian lama banyak orang mulai meninggalkan kita, serta kita juga merasa tidak ingin jadi Buddhis lagi.”

Pernyataannya dibenarkan Irvyn,“ True Direction menghasilkan cerang musik untuk mengapresiasi bakat- bakat nada. Di sinilah cerang itu serta ini wajib menabur. Tidak cuma nada, namun Dhamma. Kita bukan ingin untuk Buddhis kharismatik, kita tidak ingin untuk suatu yang mengambil alih sanjung abdi, kita cuma ingin buka pintu untuk mereka yang belum memiliki lumayan parami( kebajikan) buat dapat bersandar mengikuti Dhamma di vihara..”

 Baca Juga : Mengenal Lebih Jauh Dengan Buddhisme Tibet

Baginya, tidak seluruh orang mempunyai tingkat yang serupa dalam berlatih Dhamma. Untuk banyak pendatang baru, lagu Buddhis merupakan salah satu pintu masuk sangat menarik buat memahami Dhamma sebab lebih mengena serta mengasyikkan. Irvyn pula mengatakan dirinya dapat tahu Dhamma semacam dikala ini sebab dahulu kerap mengikuti lagu- lagu Buddhis buatan Bhikkhu Girirakkhito, Jan Hien, Darmadi Tjahjadi, serta lain- lain. Beliau pula lagi mempertimbangkan metode supaya dapat merangkul para musisi Buddhis tua itu supaya dapat berkreasi bersama- sama memajukan musik Buddhis.

Tiba- tiba para jiwa belia yang muncul dikala itu seluruhnya bertampar tangan. Serta kobaran antusias itu langsung disalurkan dengan ngejam serempak. Para musisi belia yang tadinya belum silih tahu, terlebih main nada bersama, langsung dapat melebur menyanyikan 3 buah lagu: Only Dhamma is My Way, Tidak Angin besar, serta Mudah- mudahan Seluruh Hidup Bergembira.

Mereka juga kesimpulannya akur buat dengan cara teratur terkumpul serta mempertajam keahlian bermusik dengan cara bersama- sama, rencananya tiap 2 minggu sekali masing- masing hari Sabtu di kantor Gradasi Nada. Irvyn pula berkomitmen hendak mendatangkan guru- guru terbaik buat membimbing metode bermusik yang bagus. Serta sehabis keahlian bermusik mereka bertumbuh, mereka senantiasa hendak kembali ke vihara ataupun komunitas tiap- tiap buat berkontribusi pada Dhamma lewat musik.

“ Kegiatan ini keren. Baru kali ini terasa musik Buddhis dihargai, sepanjang ini tampak betul hanya tampak,” ucap Selyana dari Vihara Theravada Buddha Latihan,“ Sesungguhnya banyak talent Buddhis pengin ke vihara, tetapi ga terdapat seru- serunya. Jadi mereka alih( agama) deh.”

“ Awal mulanya saya tiba mau ketahui True Direction semacam apa, nyatanya buat mengedarkan Dhamma dengan rancangan yang segar, yang sesuai dengan anak belia,” imbuh musisi belia yang lain, Harris Kristanto, yang sebagian kali manggung di kedai kopi.

“ Nada Buddhis dikala ini tidak kurang baik, tetapi yang namanya hasrat kan menjajaki era. Jadi jika kita mau Dhamma senantiasa didengar anak belia, kita wajib mengganti rancangan kita jadi lebih segar. Tetapi pastinya tidak melenceng dari Dhamma,” Harris meningkatkan.

Serta memanglah itu tujuan True Direction, semacam ditegaskan oleh Devi Cahyadi,“ Kita bersenandung bukan buat tampak ataupun menghibur, tetapi buat mengedarkan Dhamma.”